Sabtu, 17 September 2011

## MEMBEDAH SYIAH ##



Secara bahasa, Syiah berarti pengikut, kelompok atau golongan. Secara terminologi berarti satu aliran dalam Islam yang meyakini Ali bin Abi Tholib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad SAW. (Ensiklopedi Islam, PT Ikhtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, Th 1997, Cet 4, Juz 5).

Para penulis sejarah tak ada yang sepakat mengenal awal lahirnya Sekte Syiah. Hanya bisa disimpulkan ada tiga pendapat yang menonjol menurut ulama Syiah.

Pertama, Syiah lahir sebelum datangnya Risalah Muhammad SAW. Al-Kulaini dari Abil Hasan meriwayatkan, "Wilayah Ali tertulis di seluruh suhuf para Nabi. ALLOH tidak mengutus Rosul kecuali dengan (misi) kenabian Muhammad SAW dan Wasiat Ali as," (Muhammad bin Ya'kub al-Kulaini, al-Ushul Minal Kafi, Juz I).

Kedua, Syiah lahir pada masa Nabi masih hidup. Pendapat ini dilansir oleh al-Qumi, al-Nubakhti dan ar-Raji. (Dr Nashir al-Qufari, Ushul Madhzab Syiah Imamiyah, tanpa cetakan, th.1415 H/1994 M. Cet. 2). Pendapat ini sulit dibuktikan, karena pada masa Abu Bakar dan Umar saja tak dikenal adanya pengikut Syiah.

Ketiga, pendapat yang umumnya diketengahkan banyak para penulis bahwa Syiah lahir setelah terjadi fitnah pembunuhan Utsman. Pendapat yang paling menonjol bahwa Syiah baru muncul ke permukaan setelah kemelut pasukan Ali dan Muawiyah. (Ensiklopedi Indonesia, Juz 6 Lihat: Abdullah bib Saba', Er. Sulaiman al-Audah).

Syiah menurut penelitian Dr. Abdul Azis Wali dalam disertasinya, pada abad pertama masih sebatas pengutamaan Ali atas Utsman. Tak sampai mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar. Di antara tokoh Syiah yang mengatakan ini adalah Imam Sya'bi dan Ja'far ash-Shodiq. Hanya kemudian tren Syiah berkembang menjadi madhzab tersendiri yang umumnya tak mengakui kekhalifahan Abu Bakar, Umar , Utsman, dan Muawiyyah. Selanjutnya Ali bin Abi Tholib dan keturunannya adalah imam-imam mereka. (Mengapa Kita Menolak Syiah, LPPI, Th. 1418 H/1998 M. Cet.I).

Inti ajaran Syiah sebenarnya terletak pada masalah imam yang mereka pusatkan pada tokoh-tokoh Ahlul Bait. Karena itu mereka menentukan 12 Imam. Pihak Syiah meyakini imam-imam ini ma'shum (terjaga dari salah dan dosa) dan yang paling berhak melaksanakan 'imamah'. Hanya dalam perkembangan Syiah terjadi perbedaan ketika menentukan siapa imam setelah Ali Zainal Abidin, apakah Zaid bib Ali atau Muhammad al-Baqir. Karena itu, Syiah terbagi dua: Syiah Imamiyah dan Syiah Zaidiyah. Demikian pula ketika menentukan Imam ketujuh, karena Ja'far ash-Shodiq mempunyai beberapa orang anak pria. Di sini Syiah Imamiyah menentukan Musa al-Kadzim, sedangkan Syiah Ismailiyah mengikuti mengikuti Ismail bin Ja'far.

Di luar tiga golongan Syiah tersebut, terdapat Syiah Ekstrem yang menyatakan, Ali bin Abi Tholib sebagai Tuhan dan Tak Mati Terbunuh. Ini PAHAM SESAT dari Syiah Saba'iyah. Paham ini juga menyatakan Al-Qur'an seharusnya turun pada Ali bin Abi Tholib. Karena kekeliruan Malaikat Jibril, diberikan kepada Muhammad SAW atau PAHAM SESAT dari Syiah Gusabiyah. (Ensiklopedi Juz 6 hal; 3406).

Ada empat rujukan utama Syiah untuk membangun mazhabnya.
Pertama, Al-Kafi, karangan Muhammad bin Ya'kub bin Ishaq al-Kulaini, ulama Syiah terbesar di zamannya. Dalam kitab itu terdapat 16199 hadits. Buku ini oleh kalangan Syiah paling terpercaya dari empat rujukan itu.
Kedua, Man Laa Yahdhuruhul Faqih karangan Muhammad bin Babawaih al-Qumi. Di dalamnya ada 3913 hadits musnad dan 1050 hadits mursal.
Ketiga, At-Tahdzib karangan Muhammad at-Tusi yang dijuluki Lautan Ilmu.
Keempat, Al-Istibshar pengarang yang sama, mencakup 5001 hadits. IMuhammad Ridha Mudzaffar, al-'Aqaidul Imamiyyah, Muhammad Shadiq ash-Shadr, asy-Syiah al-Imamiyah, Kairo, Mathba'atun Najah, th. 1402 H/1982 M. Cet. II, hal 130-134).

Secara umum, Penyimpangan Syiah ada beberapa hal penting, yaitu:

I. Syiah hanya memiliki 5 Rukun Iman, tanpa menyebutkan keimanan kepada para Malaikat, Rosul, Qodho dan Qodar. Yaitu,
1. Tauhid (Keesaan ALLOH)
2. al-'Adli (Keadilan ALLOH)
3. Nubuwwah (Kenabian)
4. Imamah (kepemimpinan Imam)
5. Ma'ad atau Hari Kebangkitan dan Pembalasan. (Muhammad Ridha Mudzaffar, al-'Aqaidul Imamiyyah).

II. Syiah tak mencantumkan Syahadatain dalam Rukun Islam, yaitu,
1. Sholat
2. Zakat
3. Puasa
4. Haji
5. Wilayah atau Perwalian. (al-Kafi, Juz II, hal 18).

III. Syiah meyakini bahwa Al-Qur'an sekarang ini telah dirubah, ditambah atau dikurangi dari yang seharusnya.
IV. Syiah meyakini bahwa para sahabat sepeninggal Nabi Murtad kecuali beberpa orang saja seperti al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifary dab Salman al-Farisi. (ar-Raudhah minal Kafi, Juz VIII, hal 245; dan al-Ushul minal Kafi, Juz II, hal 244).

V. Syiah menggunakan senjata 'taqiyyah' yaitu berbohonh, dengan cara menampakkan sesutau yang berbeda dengan sebenarnya, untuk mengelabui. (al-Ushul minal Kafi, Juz II, hal 217).

VI. Syiah percaya pada ar-Raj'ah yaitu kembalinya Ruh-ruh ke Jasadnya masing-masing di dunia sebelum Kiamat di kala Imam Ghoib mereka keluar dari persembunyiannya dan menghidupkan Ali dan anak-anaknya untuk Balas Dendam pada lawan-lawannya.

VII. Syiah percaya kepada al-Bada' yakni tampak bagi ALLOH dalam hal ke-Imaman Ismail (yang telah dinobatkan ke-Imamannya oleh ayahnya Ja'far ash-Shodiq, tetapi kemudian meninggal di saat ayahnya masih hidup) yang tadinya tak tampak. Jadi bagi mereka, ALLOH boleh Khilaf, tetapi imam mereka tetap ma'shum.

VIII. Syiah membolehkan Nikah Mut'ah (Nikah Kontrak) dengan jangka waktu tertentu. (Tafsir Minhajus Shadiqin, Juz II, hal. 493). Padahal, nikah mut'ah telah di-HARAM-kan Rosululloh SAW yang diriwayatkan oleh Ali bin Abi Tholib sendiri.

Menurut Ensiklopedi Islam, "Paham Syiah dianut oleh sekitar 20 persen dari umat Islam dewasa ini. Penganut Paham Syiah tersebut di negara-negara Isan, Irak, Afghanistan, Pakistan, India, Libanon, Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, bekas negara Uni Soviet, serta beberapa negara Amerika dan Eropa (Juz V, hal 5), dan termasuk Indonesia.

WASPADALAH AKAN BAHAYA SYIAH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar