Minggu, 02 Oktober 2011

MEMBACA AL-QUR’AN UNTUK MAYYIT



PARA SALAFI MENGATAKAN BIDAH SESAT , PARA ULAMA ASWAJA MEMBENARKAN. MARI KITA LIHAT HADIST DI BAWAH INI
Membaca al Qur'an

Para ulama Ahlussunnah menyepakati bahwa doa dan istighfar seorang muslim yang masih hidup kepada Allah untuk orang yang telah mati itu bermanfaat. Demikian juga membaca al Qur'an di atas kubur juga bermanfaat terhadap mayyit. Dalil Kebolehan membaca al Qur'an di atas kubur adalah hadits bahwa Nabi membelah pelepah yang basah menjadi dua bagian kemudian Nabi menana...mkan masing-masing di dua kuburan yang ada dan Rasulullah bersabda:


" لعله يخفف عنهما ما لم ييبسا" رواه الشيخان

Maknanya: "Semoga keduanya mendapatkan keringanan siksa kubur selama pelepah ini belum kering". Dapat diambil dalil dari hadits ini bahwa boleh menancapkan pohon dan membaca al Qur'an di atas kubur, jika pohon saja bisa meringankan adzab kubur lebih–lebih bacaan al Qur'an orang mukmin. Imam Nawawi berkata: "Para ulama mengatakan sunnah hukumnya membaca al Qur'an di atas kubur berdasarkan pada hadits ini, karena jika bisa diharapkan keringanan siksa kubur dari tasbihnya pelepah kurma apalagi dari bacaan al Qur'an". Jelas bacaan al Qur'an dari manusia itu lebih agung dan lebih bermanfaat daripada tasbihnya pohon. Jika telah terbukti al Qur'an bermanfaat bagi sebagian orang yang ditimpa bahaya dalam hidupnya, maka mayit begitu juga.

Di antara dalil bahwa mayyit mendapat manfaat dari bacaan al Qur'an orang lain adalah hadits Ma'qil ibn Yasar:

" اقرءوا يس على موتاكم " (رواه أبو داود والنسائي وابن ماجه وابن حبان وصححه).

Maknanya : " Bacalah surat Yaasin untuk mayit kalian " (H.R Abu Dawud, an– Nasai, Ibn Majah dan Ibn Hibban dan dishahihkannya).

Hadits ini memang dinyatakan lemah oleh sebagian ahli hadits, tetapi Ibn Hibban mengatakan hadits ini shahih dan Abu Dawud diam (tidak mengomentarinya) maka dia tergolong hadits Hasan (sesuai dengan istilah Abu Dawud dalam Sunan-nya), dan al Hafizh as-Suyuthi juga mengatakan bahwa hadits ini Hasan.

Dalil yang lain adalah hadits Nabi:
" يس قلب القرءان لا يقرؤها رجل يريد الله و الدار الآخرة إلا غفر له، واقرءوها على موتاكم " (رواه أحمد)

Maknanya : " Yasin adalah hatinya al Qur'an, tidaklah dibaca oleh seorangpun karena mengharap ridla Allah dan akhirat kecuali diampuni oleh Allah dosa– dosanya, dan bacalah Yasin ini untuk mayit–mayit kalian " (H.R. Ahmad)


Ahmad bin Muhammad al Marrudzi berkata : "Saya mendengar Ahmad ibn Hanbal -semoga Allah merahmatinya- berkata: "Apabila kalian memasuki areal pekuburan maka bacalah surat al Fatihah dan Mu'awwidzatayn dan surat al Ikhlas dan hadiahkanlah pahalanya untuk ahli kubur karena sesungguhnya pahala bacaan itu akan sampai kepada mereka".

Al Khallal juga meriwayatkan dalam al Jami' dari asy-Sya'bi bahwa ia berkata:

"كانت الأنصار إذا مات لهم ميت اختلفوا إلى قبره يقرءون له القرءان"

"Tradisi para sahabat Anshar jika meninggal salah seorang di antara mereka, maka mereka akan datang ke kuburnya silih berganti dan membacakan al Qur'an untuknya (mayit)".


Demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh Imam al Bukhari bahwasanya 'Aisyah -semoga Allah meridlainya- berkata : Alangkah sakitnya kepalaku lalu Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda :
" ذاك لو كان وأنا حي فأ ستغفر لك وأدعو لك "


Maknanya : "Jika itu terjadi (engkau sakit dan meninggal) dan aku masih hidup maka aku mohon ampun dan berdoa untukmu".

Perkataan Rasulullah " وأدعو لك " (maka saya akan berdoa untukmu) ini, mencakup doa dengan segala bentuk dan macam–macamnya, maka termasuk doa seseorang setelah membaca beberapa ayat dari al Qur'an dengan tujuan supaya pahalanya disampaikan kepada mayit seperti dengan mengatakan :

اللهم أوصل ثواب ما قرأت إلى فلان

"Ya Allah sampaikanlah pahala bacaanku ini kepada si Fulan".

Demikian juga hadits yang diriwayatkan oleh Ubayy ibn Ka'b bahwa dia berkata: "Wahai Rasulullah sesungguhnya aku banyak bershalawat kepadamu maka berapa banyak sebaiknya aku bershalawat kepadamu ? Rasulullah menjawab : "terserah kamu" (H.R. Imam at–Turmudzi)

Sedangkan yang sering dikatakan orang bahwa Imam Syafi'i menyatakan bacaan al Qur'an tidak akan sampai kepada mayyit, maksud asy-Syafi'i adalah jika bacaan tersebut tidak dibarengi dengan doa Ii-shal - إيصال - (doa agar disampaikan pahala bacaan tersebut kepada mayit) atau bacaan tersebut tidak dilakukan di kuburan mayit karena asy-Syafi'i menyetujui kedua hal ini (membaca al Qur'an dengan diakhiri doa Ii-shal - إيصال - dan membaca al Qur'an di atas kuburan mayit). Imam an-Nawawi mengatakan: "Asy-Syafi'i dan tokoh-tokoh madzhab Syafi'i mengatakan: Disunnahkan dibaca di kuburan mayit ayat-ayat al Qur'an, dan jika dibacakan al Qur'an hingga khatam itu sangat baik".

Sebagian ahli bid'ah mengatakan tidak akan sampai pahala sesuatu apapun kepada si mayit dari orang lain yang masih hidup, baik doa ataupun yang lain. Perkataan mereka ini bertentangan dengan al Qur'an dan Sunnah. Bahwa mereka berdalil dengan firman Allah ta'ala:

) وأن ليس للإنسان إلا ما سعى ( (سورة النجم : 39 )

Ini adalah hal yang tidak tepat dan mesti ditolak karena maksud ayat ini bukanlah menafikan bahwa seseorang mendapatkan manfaat dari apa yang dikerjakan oleh orang lain seperti sedekah dan haji untuk orang yang telah meninggal, melainkan ayat ini menafikan kepemilikan terhadap amal orang lain. Amal orang lain adalah milik orang lain yang mengerjakankannya, karena itu jika ia mau ia bisa memberikan kepada orang lain dan jika tidak ia bisa memilikinya untuk dirinya sendiri. Allah subhanahu wata'ala tidak mengatakan tidak bermanfaat bagi seseorang kecuali amalnya sendiri.

Mereka yang menafikan secara mutlak tersebut adalah golongan Mu'tazilah. Imam Ahmad ibn Hanbal pernah mengingkari orang yang membaca al Qur'an di atas kuburan, namun kemudian sahabat (salah seorang murid dekat)nya menyampaikan kepadanya atsar dari sebagian sahabat yaitu Ibn Umar lalu dia ruju' dari pendapatnya tersebut. Al Bayhaqi dalam as-Sunan al Kubra meriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa Ibn Umar menganggap sunnah setelah mayit dikuburkan untuk dibacakan awal dan akhir surat al Baqarah. Salah seorang ulama Madzhab Hanbali, Asy-Syaththi al Hanbali dalam komentarnya atas kitab Ghayah al Muntaha, hlm. 260 mengatakan : "Dalam al Furu' dan Tashhih al Furu' dinyatakan : Tidak dimakruhkan membaca al Qur'an di atas kuburan dan di areal pekuburan, inilah yang ditegaskan oleh al Imam Ahmad, dan inilah pendapat madzhab Hanbali. Kemudian sebagian menyatakan hal itu mubah, sebagian mengatakan mustahabb (sunnah). Demikian juga disebutkan dalam al Iqna'".


Menghidangkan Makanan untuk orang yang datang ta'ziyah atau menghadiri undangan baca al Qur'an
Menghidangkan makanan yang dilakukan oleh keluarga mayit untuk orang yang datang ta'ziyah atau menghadiri undangan baca al Qur'an adalah boleh karena itu termasuk ikram adl-Dlayf (menghormat tamu). Dan dalam Islam ini adalah sesuatu yang dianjurkan. Sedangkan Hadits Jarir ibn 'Abdillah al Bajali bahwa ia mengatakan :

" كنّا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنيعة الطعام بعد دفنه من النياحة"
(رواه أحمد بسند صحيح)

Maknanya : "Kami di masa Rasulullah menganggap berkumpul di tempat mayit dan membuat makanan setelah dikuburkannya mayit sebagai Niyahah (meratapi mayit yang dilarang oleh Islam)" (H.R. Ahmad dengan sanad yang sahih)

Maksudnya adalah jika keluarga mayit membuat makanan tersebut untuk dihidangkan kepada para hadirin dengan tujuan al Fakhr ; berbangga diri supaya orang mengatakan bahwa mereka pemurah dan dermawan atau makanan tersebut disajikan kepada perempuan-perempuan agar menjerit-jerit, meratap sambil menyebutkan kebaikan-kebaikan mayit, karena inilah yang biasa dilakukan oleh orang-orang di masa jahiliyah, mereka yang tidak beriman kepada akhirat itu. Dan inilah Niyahah yang termasuk perbuatan orang-orang di masa jahiliyyah dan dilarang oleh Nabi shallallahu 'alayhi wasallam .

Jika tujuannya bukan untuk itu, melainkan untuk menghormat tamu atau bersedekah untuk mayit dan meminta tolong agar dibacakan al Qur'an untuk mayit maka hal itu boleh dan tidak terlarang. Al Bukhari meriwayatkan dalam Sahih-nya dari Ibn 'Abbas bahwa Sa'd ibn 'Ubadah ibunya meninggal ketika dia pergi, kemudian ia berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam : Wahai Rasulullah, Ibuku meninggal dan aku sedang tidak berada di tempat tersebut, apakah bermanfa'at baginya jika aku menyedekahkan sesuatu untuknya ?, Rasulullah menjawab : "Ya", Sa'd berkata : (Kalau begitu) Saya bersaksi kepadamu bahwa kebunku yang sedang berbuah itu aku sedekahkan untuknya.


Tahlilan pada hari ke tiga, ke tujuh, ke seratus, ke seribu dan seterusnya
Tradisi ummat Islam mengundang para tetangga ke rumah mayit kemudian memberi makan mereka ini adalah sedekah yang mereka lakukan untuk si mayit dan dalam rangka membaca al Qur'an untuk mayit, dan jelas dua hal ini adalah hal yang boleh dilakukan. Sedekah untuk mayit jelas dibenarkan oleh hadits Nabi dalam Sahih al Bukhari. Sedangkan membaca al Qur'an untuk mayit, menurut mayoritas para ulama salaf dan Imam madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali pahalanya akan sampai kepada mayit, demikian dijelaskan oleh as-Suyuthi dalam Syarh ash-Shudur dan dikutip serta disetujui oleh al Hafizh Murtadla az-Zabidi dalam Syarh Ihya' 'Ulum ad-Din. Syekh Abdullah al Harari mengatakan : "Sedangkan yang sering dikatakan orang bahwa Imam asy-Syafi'i menyatakan bacaan al Qur'an tidak akan sampai kepada mayyit maksud asy-Syafi'i adalah jika bacaan tersebut tidak dibarengi dengan doa Ii-shal (doa agar disampaikan pahala bacaan kepada mayyit) atau bacaan tersebut tidak dilakukan di kuburan mayyit karena asy-Syafi'i menyetujui kedua hal ini (membaca al Qur'an dengan diakhiri doa Ii-shal dan membaca al Qur'an di atas kuburan mayyit)". (lihat Syarh Raudl ath-Thalib, Nihayatul Muhtaj, Qadla' al Arab fi As-ilah Halab dan kitab-kitab Fiqh Syaf'i yang lain).

Bahwa berkumpul untuk mendoakan mayit dan membaca al Qur'an untuknya pada hari ke tiga, ke tujuh, ke seratus, ke seribu dan seterusnya maka hukumnya adalah sebagai berikut :

Berkumpul di hari ke tiga tujuannya adalah berta'ziyah. Berkumpul setelah hari ke tiga tujuannya adalah berta'ziyah bagi yang belum. Bagi yang sudah berta'ziyah, berkumpul saja pada hari-hari tersebut bukanlah hal yang mutlak sunnah, tetapi kalau tujuan berkumpul tersebut adalah untuk membaca al Qur'an dan ini semua mengajak kepada kebaikan. Allah ta'ala berfirman :
) وافعلوا الخيـر لعلكم تفلحون ( (سورة الحج : 77)

Maknanya : "Lakukanlah hal yang baik agar kalian beruntung" (Q.S. al Hajj : 77).[]

PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 1




PERANG SALIB /THE CRUSADES | SEBUAH SKETSA SEJARAH BAGIAN 1
Perang Salib (Crusades) tidak lahir secara spontan; perang ini juga tidak pecah karena ada satu kejadian penting. Sesungguhnya perang ini lahir dari perpaduan berbagai faktor yang menciptakan situasi politik, sosial, agama dan ekonomi yang pada gilirannya melahirkan “semangat perang suci” yang menyebar ke seluruh Eropa. Perang ini tidak berlangsung tanpa jeda selama 2 abad, tetapi ia mengalami masa-masa tenang, dan pecah lagi karena ada muncul respon-respon terhadap kejadian-kejadian di Timur Tengah.
Pertama-tama, mari kita lihat situasi. Pergolakan di Timur Tengah berlangsung dinamis selama 1000 sebelum perang salib pecah. Yerusalem, yang merupakan pusat kota suci kuno kaum Yahudi, pernah jatuh ke tangan kekuasaan pagan (penyembah banyak dewa), yakni Kekaisaran Romawi. Lalu Yerusalem menjadi pusat kota suci Kristen setelah Kaisar Romawi, Konstantin, menganut agama Kristen. Sesudah Kekaisaran Romawi terbelah pada abad ke-5 Masehi, kota Yerusalem berada di bawah kekuasaan Gereja Kristen Ortodoks Timur dan Kekaisaran Byzantium. Lalu Yerusalem jatuh ke tangan umat Muslim pada abad ke-7 Masehi. Lalu Yerusalem jatuh ditangan dinasti Muslim dari Mesir.
Lalu terjadi lagi pergeseran dengan bangkitnya dinasti Seljuk di Turki (kaum Turk) pada abad 11 Masehi. Mereka pada awalnya adalah orang-orang nomaden yang menguasai kawasan Asia Tengah. Pada akhir abad ke-10 mereka masuk Islam dan menjadi bagian dari kekuasaan Muslim. Salah satu klan (suku) Turk ini adalah Bani Seljuk, suku yang besar dan kuat. Kaum Seljuk sulit dikuendalikan, dan mereka mulai bergerak menguasai Timur Tengah. Pada tahun 1055, Baghdad (kota penting di kawasanPersia saat itu) jatuh ke tangan mereka. Lalu mereka merangsek dan menguasai Syria dan seluruh kawasan Persia. Seljuk  bahkan menginvasi Armenia (sekarang adalah wilayah Timur negara Turki dan sebelah utara negara Iran). Pada 1071, bani Seljuk menggulingkan kekuasaan Fatimiyyah di Mesir, yakni dinasti yang saat itu menguasai Yerusalem. Maka Yerusalem kembali berpindah tangan: kali ini di bawah kekuasaan Dinasti Seljuk.
Kaisar Byzantium, Romanus IV Diogenes, melihat ancaman dari Seljuk. Maka ia mengerahkan pasukannya untuk menghadang pasukan Seljuk di kota Manzikert, Armenia, pada 1071. Rupanya pasukan Seljuk adalah pejuang sejati dan tentara yang berpengalaman: meski kalah jumlah, mereka berhasil mengalahkan pasukan Byzantium dan bahkan menangkap sang kaisar.
Ini adalah kejadian penting. Setelah Perang Manzikert itu, pasukan Byzantium tak mampu menahan laju serangan Seljuk. Bani Seljuk terus bergerak ke kawasan Asia Kecil (kawasan semenanjung barat Asia, dibatasi Laut Hitam di utara, Laut Mediterania di selatan, dan Laut Aegean di barat). Kota Antioch (kini bagian dari Turki) dan Edessa (kini menjadi kota Urfa di Turki) jatuh ke tangan Seljuk. Akhirnya kekuasaan Byzantium makin kecil, hanya bertahan di kawasan kota Konstantinopel.
*===*
Orang-orang Eropa merasa cemas dengan perkembangan ini. Alasan utamanya adalah: (1) mereka khawatir bahwa Dinasti Seljuk yang menguasai Yerusalem akan menutup akses kaum Kristen untuk masuk Yerusalem. Pada saat itu bangsa Eropa patuh pada gereja dan percaya bahwa salah satu jalan keselamatan di akhirat adalah dengan  berziarah ke kota suci Yerusalem. Kekhawatiran kaum Kristen sebagian benar. Meski Seljuk tidak menutup akses masuk kaum Kristen, namun peziarah Kristen makin sulit untuk masuk ke kota suci. Mereka harus menghadapi banyak penjahat di sepanjang jalan, dan menghadapi penguasa muslim lokal yang memungut bayaran untuk menjamin keselamatan peziarah. Para peziarah Kristen yang kembali lagi ke Eropa membawa cerita tentang betapa berbahayanya perjalanan ke Yerusalem dan betapa mahalnya ongkos yang mereka keluarkan.
Selain itu, Eropa juga cemas akan nasib Kekaisaran Byzantium. Mereka sadar bahwa jika Konstantinopel jatuh ke tangan Muslim Seljuk, maka seluruh kekaisaran Byzantium akan runtuh. Eropa ingin agar Byzantium tetap berdiri kokoh, sebagai benteng pertahanan pertama dalam menghadapi pengaruh kekuasaan Muslim yang mulai membayangi kerajaan Kristen di Eropa. Pada saat yang sama, Muslim mulai menyerang Italia, Perancis dan Spanyol. Muslim sudah mencengkeramkan kekuasaannya di Spanyol dengan mengangkat kalifah di Kordoba. Jika Byzantium runtuh, Eropa akan menghadapi ancaman yang lebih besar. Bangsa Eropa, yang sebagian besar adalah kerajaan Kristen, tentu tak sudi takluk di bawah kekuasaan Muslim. Lebih jauh, meski Gereja Ortodoks Timur dan Gereja Katolik Romawi berselisih, bagaimanapun juga Gereja Ortodoks tetaplah kaum Kristen. Pada awal tahun 1074 Paus Gregory VII, pimpinan Gereja Katolik Romawi, ingin mempersatukan kedua Gereja Kristen itu. Ia berencana memimpin pasukan Kristen untuk membantu Byzantium dan memukul mundur Seljuk. Tetapi rencana itu tak pernah direalisasikan. Gregory dan penerusnya memandang kejadian-kejadian di kawasan Timur sebagai cara untuk menyatukan, atau setidaknya, untuk memaksa Gereja Ortodoks tunduk pada Gereja Katolik Romawi.
Pada tahun 1081 Kekaisaran Byzantium bangkit setelah Kaisar Alexius I naik tahta. Ia adalah raja yang tangguh, ahli militer dan negarawan. DI bawah kekuasaannya, Byzantium mampu menahan serangan Seljuk meski ia tak pernah berhasil memukul mundur Seljuk. Karena itu Alexius I merasa perlu menambah pasukan, dan satu-satunya cara adalah memakai tentara bayaran atau meminta bantuan dari Barat. Alexius ingin memakai ksatria perang Perancis untuk memperkuat pasukannya
Maka, Alexius menulis surat kepada bangsawan di Eropa Barat, meminta bantuan. Sebagai politisi yang lihai, Alexius tahu bahwa permintaannya akan diabaikan jika ia hanya mengemukakan alasan ingin mempertahankan kekuasaannya di Byzantium. Maka ia mengemukakan gambaran tentang kaum Kristen di Timur yang ditindas dan perlu dibebaskan dari kekuasaan Muslim. Dia berdalih bahwa tempat suci Kristen di Timur seharusnya tidak berada di dalam kekuasaan Muslim dan Turk. Dia menciptakan kesan bahwa orang Muslim di Timur menghalang-halangi peziarah Kristen masuk ke Yerusalem.
Jelas bahwa gambaran yang dikemukakan Alexius tidak benar, atau dilebih-lebihkan. Pada 1095 Paus Urban II (1042-1099) memimpin konsili gereja di Piacenza, Italia. Pada saat itu datanglah utusan diplomatik dari Byzantium. Mereka membawa misi untuk meminta bantuan dari Eropa. Paus Urban dan para pejabat tinggi gereja rupanya tersentuh oleh permintaan itu. Segera sesudah konsili itu, Paus Urban mulai menyusun rencana untuk membantu kaisar Byzantium. Dan akibat dari pelaksanaan rencana ini adalah pecahnya Perang Salib I, yang menyebabkan Yerusalem jatuh ke tangan Kristen pada 1099.
PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 2
gambar salibis dari google: semangat keagamaan kerap dieksploitasi. bangsa Eropa Kristen abad pertengahan pernah melakukannya. dan hasilnya adalah bencana. dan kini, sebagian umat Islam meniru jejak kaum Eropa abad pertengahan: mengeksploitasi agama, yang menyebabkan kekerasan atas nama agama, seperti perusakan dan pengeboman yang membabibuta. Mari belajar sejarah, agar kesalahan yang sama tak terus terulang
Artikel sebelumnya
Sebelum kita melihat melalui sketsa sejarah perang salib, ada beberapa penjelasan faktor yang memicu bangsa Eropa untuk memantik perang. Pertama adalah faktor “histeria keagamaan.” Kondisi bangsa Eropa pada waktu itu masih terbelakang,  banyak warganya yang hidup miskin dan kesulitan.  Janji-janji kepada orang miskin bahwa perang melawan orang “kafir” di kota suci sangat menarik bagi mereka. Mereka sudah hampir kehilangan harapan hidup dan janji sorga tentu sangat menggiurkan.  Maka merekapu n sangat antusias. Berikut contoh dari bagaimana faktor “histeria religius” menyebabkan bangkitnya orang untuk maju perang. Contoh yang akan disebut disini adalah Pasukan Salib Rakyat dan Pasukan Salib Anak.
 =====
Seorang pendeta pengelana, Rahib Peter  memimpin sekumpulan petani dan orang-orang  biasa, yang kebanyakan dari golongan miskin, yang merasa “terpanggil” untuk menyelamatkan  kota suci dan berharap masuk sorga. Mereka kadang-kadang disebut Tentara Salib Rakyat, karena karakter mereka berbeda dengan tentara salib pada umumnya yang dipimpin oleh para bangsawan atau raja. Pasukan Peter merupakan pasukan gelombang pertama dari bangsa Eropa yang tiba di Timur tak lama sesudah Paus Urban berkhotbah tentang perlunya Perang Salib. Peter adalah sosok bertubuh kecil, berpakaian kumuh dan sering berkelana dengan bertelanjang kaki. Wajahnya yang berbentuk oval memanjang dan berkulit gelap, ia mampu merebut simpati banyak orang awam. Setiap ia singgah di suatu tempat, ia mampu menarik ratusan pengikut. Dan disepanjang perjalanannya menuju ke Timur, pengikutnya terus bertambah, seperti bola salju yang terus membesar. Ia berjalan melewati Perancis dan Jerman. Namun para pengikutnya bukan dari kalangan ksatria atau tentara; mereka adalah para petani, penjahat kelas teri, wanita, anak-anak, orang tua, tentara yang terusir dan orang-orang yang berpenyakit. Peter menjanjikan kepada mereka keselamatan abadi. Mereka dijanjikan akan bebas dari kehidupan yang menderita dan sulit dan mendapat berkah dari Tuhan, jika mereka rela bertempur melawan orang “kafir”, yakni orang-orang Muslim, di tanah suci Yerusalem. Saat Peter mencapai Cologne, Jerman, ia sudah diikuti oleh 15.000 tentara.
.Sebenarnya Paus mengumumkan  bahwa Tentara Salib pertama akan diberangkatkan ke Timur Tengah pada Agustus 1096. Namun Peter dan tentaranya tidak sabar;  jadi mereka berangkat dari Jerman pada bulan April. Diperkirakan pasukan Peter saat itu telah mencapai 20 ribu orang – sebagian ahli sejarah bahkan menyebut angka sekitar 300 ribu orang.
Pasukan ini, yang sering kelaparan dan tidak disipilin, menimbulkan keonaran disepanjang jalan yang mereka lalui menuju kota suci. Mereka membuat kerusuhan di Hungaria,  merampok dan menjarah kota Nish (sekarang masuk Bulgaria). Kabar kerusuhan ini sampai ke telinga kaisar Byzantium. Dia mengirim pasukan untuk mencegat mereka, dengan dalih “mengawal” mereka ke Konstantinopel. Tetapi pasukan Byzantium dan pasukan Peter akhirnya bertempur, dan Byzantium diserang oleh pasukan Peter. Akhirnya pasukan Peter kalah dan menyerah, setelah sekitar 10,000 orang tewas dan ribuan lainnya  akhirnya diperbudak oleh Byzantium.
Tetapi sebagian dari mereka masih merangsek. Tentu saja Kaisar Alexius sangat marah saat pasukan orang biasa itu mencapai gerbang benteng Konstantinopel. Mereka terus menimbulkan kerusuhan: menjarah, merampok, dan membakar gedung. Alexius akhirnya menahan mereka di sebuah kamp militer di Jalur Bosphorus di Asia Kecil pada bulan Agustus, sambil meminta mereka menunggu pasukan tentara terlatih dari Eropa.
Namun pasukan Peter ini, yang selalu kelaparan dan ingin cepat masuk sorga, tidak mau menunggu. Pada 21 Oktober 1096, Peter sedang berada di Konstantinopel. Pasukannya berinisiatif sendiri menyerang Seljuk. Mereka meninggalkan wanita dan anak-anak di kamp, dan bergerak menyerbu pasukan Seljuk. Mereka semua tewas di tangan pasukan Turks. Tentara Seljuk kemudian menyerbu kamp militer itu dan meluluhlantakkan semuanya. Ribuan pasukan Peter melarikan diri ke kota Konstantinopel. Namun mereka berhasil dicegat dan dibantai semuanya.  Mayat mereka ditumpuk membentuk bukit. Beberapa bulan kemudian, pasukan Salib dari Eropa menjumpai bukit tengkorak dan tulang-belulang: semuanya adalah tulang dari pasukan Pendeta Peter.
PERANG SALIB | SKETSA SEJARAH BAGIAN 2
gambar salibis dari google: semangat keagamaan kerap dieksploitasi. bangsa Eropa Kristen abad pertengahan pernah melakukannya. dan hasilnya adalah bencana. dan kini, sebagian umat Islam meniru jejak kaum Eropa abad pertengahan: mengeksploitasi agama, yang menyebabkan kekerasan atas nama agama, seperti perusakan dan pengeboman yang membabibuta. Mari belajar sejarah, agar kesalahan yang sama tak terus terulang
Contoh kedua adalahPasukan Salib Anak. Ini contoh yang menyolok tentang bagaimana semangat keagamaan bisa dieksploitasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan tindakan yang sulit diterima akal sehat. Sebelum pecah Perang Salib V (awal abad 13), muncul gerakan pasukan anak-anak Eropa yang bergerak ke kota Yerusalem. Saat itu kaum miskin semakin banyak. Pertambahan penduduk terjadi lebih cepat, dan Eropa tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup penduduknya yang  bertambah cepat. Pengangguran naik tajam. Beban pajak atas kaum miskin semakin berat. Makin banyak orang yang berkelana mencari pekerjaan atau mengemis. Mereka ini menjengkelkan pihak Gereja. Mereka percaya bahwa orang-orang Tuhan adalah orang-orang miskin, bukan pejabat Gereja yang hidup mewah dan berkuasa. Pada saat inilah legenda Pasukan Salib Anak muncul dan berkembang di kalangan penduduk awam. Perasaan putus asa terhadap kehidupan yang semakin sulit menyebabkan mereka melakukan hal yang spektakuler.
Legenda Pasukan Salib Anak adalah seperti ini: Pada Mei 1212, Raja Philip dari Perancis sedang mengadakan sidang di istana. Mendadak muncul anak penggembala, berusia 12 tahun, bernama Stephen. Penggembala ini mengaku membawa surat yang diberikan kepadanya langsung oleh Kristus, dan Kristus memerintahkannya untuk menyerahkan surat itu kepada Raja Perancis. Surat itu menyatakan bahwa Raja Perancis harus mengerahkan pasukan untuk membebaskan Yerusalem. Tetapi Sang Raja mengabaikan surat itu.
Namun anak penggembala itu bertekad untuk membebaskan Yerusalem. Maka ia berkelana ke seluruh Perancis, dan mengajak orang untuk berperang. Dia mendapat banyak pengikut. Sebagian orang menganggapnya sebagai orang suci. Saat ia sampai di Vendome, Perancis, ia sudah diikuti oleh 30,000 orang dari berbagai kalangan. Semua pengikutnya adalah anak-anak: semuanya tak ada yang berusia di atas 12 tahun. Pada bulan Juni 1212, pasukan anak-anak ini bergerak ke Marseilles, Perancis. Saat sampai di Marseilles, mereka bertemu denga pedagang, Hugh dan William. Keduanya setuju membawa pasukan anak itu menyeberang laut menuju Yerusalem. Tetapi saat dilautan, kapal mereka terkena badai. Dua kapal tenggelam, dan lima kapal lainnya berhasil selamat. Namun setelah itu tak terdengar lagi kabar dari pasukan anak-anak tersebut. Delapan belas tahun kemudian, seorang pendeta yang menemani pasukan anak-anak itu menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Menurutnya, sesudah badai, kapal mereka tidak ke Yerusalem, tetapi berbelok ke Afrika Utara, ke Aljazair. Kedua pedagang itu menjual anak-anak itu sebagai budak.
Sementara itu, di Jerman dibentuk pasukan anak-anak kedua. Mereka saat itu tidak tahu bagaimana nasib anak-anak di bawah pimpinan Stephen. Pasukan kedua ini dipimpin oleh anak bernama  Nicholas, dan jumlahnya sekitar 20.000 anak. Mereka berjalan melintasi Pegunungan Alps menuju Italia dan Pisa. Banyak yang mati kelaparan dan kedinginan selama perjalanan.  DI Pisa, sebagian anak-anak itu di bawa ke Tanah Suci Yerusalem dengan dua kapal; namun kemudian mereka tak ada kabar beritanya. Nicholas dan sebagian pengikutnya berhasil masuk Roma dan disambut oleh Paus.  Paus meminta mereka untuk bersabar, menunggu dewasa, dan menyuruh mereka pulang ke rumah. Tetapi hanya sedikit yang berhasil pulang ke rumah; sebagian besar anak hilang tak tentu rimbanya. Sementara itu, dikota kelahiran Nicholas, para orang tua yang anaknya ikut pergi bersama Nicholas menjadi marah. Para orang tua itu mendatangi ayah Nicholas, dan menggantungnya di tempat umum.
Demikianlah, contoh dari histeria keagamaan, atau semangat keagamaan, menjadikan orang mencari jalan pintas. Mereka maju perang karena merasa hidup mereka tak berarti: sulit makan, sulit mendapat pekerjaan, dan tersisihkan. Tetapi histeria ini bukan satu-satunya penjelasan dari motif dari munculnya semangat bangsa Eropa untuk maju perang. Motif lainnya lebih berkaitan dengan faktor kekuasaan keagamaan dan pengaruh politik dan ekonomi.

Jumat, 30 September 2011

‎::: Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan :::



     Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah benda abstrak. Ada Cinta, Kekayaan, Kecantikan, Kegembiraan, Kesedihan dan sebagainya. Pada awalnya mereka hidup bersama-sama dengan aman dan saling memerlukan. Namun pada suatu hari, badai datang menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba bergelombang dan menimbulkan ombak yang sangat besar dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni di pulau itu segera berusaha menyelamatkan diri.

     Cinta sangat bimbang karena ia tidak pandai berenang dan tidak memiliki perahu. Ia berdiri di tepi pantai untuk meminta bantuan. Sementara itu air semakin naik membasahi kaki Cinta. Tidak lama kemudian kelihatan Kekayaan sedang mengayuh perahu.

     "Kekayaan! Kekayaan! Tolonglah aku!?!. teriak Cinta. Dengan segera Kekayaan pun menjawab,Ohh! Maafkan aku Cinta; kata Kekayaan";Perahuku telah penuh dengan semua hartaku. Aku tak dapat membawamu bersama, nanti perahu ini akan tenggelam. Lagi pun tak ada ruang lagi untuk engkau di perahuku ini….;. Cinta amat sedih sekali, namun kemudiannya dia melihat Kegembiraan melintasi di depannya dengan sebuah perahu.

     "Kegembiraan! Tolonglah aku…!"; teriak Cinta. karena Kegembiraan terlalu gembira karena dia telah menjumpai sebuah perahu, dia langsung tidak mendengar teriakan Cinta. Air semakin meninggi membasahi Cinta sampai ke paras pinggang dan Cinta semakin panik. Tidak lama selepas itu, lalulah Kecantikan di depannya.

     Kecantikan! Bawalah aku bersamamu..!; teriak Cinta
"Wah, Cinta kamu sudah basah dan kotor. Aku tak boleh membawamu bersama, nanti kau akan mengotori perahuku yang indah ini..? sahut Kecantikan. Cinta amat sedih mendengarnya. Cinta mula menangis terisak-isak.

Apa kesalahanku, mengapa semua orang tidak mempedulikan aku..?? rintihnya sayu.

Ketika Cinta sedang menangis, lewatlah Kesedihan dengan perahunya.
;Ohh, Kesedihan, bawalah aku bersamamu,.kata Cinta.
Maaf, Cinta. Aku sedang bersedih dan aku ingin sendirian..? kata Kesedihan sambil terus mendayung perahunya. Cinta sudah mulai putus asa. Air semakin naik dan akan menenggelamkannya. Cinta terus berharap agar dirinya akan diselamatkan orang. Dia berdoa kepada Tuhan.;Oh Tuhan tolonglah aku, apa akan terjadi pada dunia tanpa aku, tanpa Cinta…;

Pada saat yang kritis itu, tiba-tiba terdengar suara memanggilnya, Cinta ! Mari cepat naik ke perahuku…" Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua berjanggut panjang memutih sedang mendayung perahunya. Cinta pun naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya.

Kemudian setibanya di pulau yang berseberangan, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera meninggalkan pulau itu. Ketika itulah, baru Cinta sadar bahawa dia tidak mengetahui siapakah gerangan orang tua yang baik hati itu yang telah menyelamatkannya. Cinta segera bertanya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang itu.

Oh, orang tua tadi ? Dia ialah Waktu ! kata orang itu.

Cinta pun bertanya lagi.;Tapi mengapakah dia menyelamatkan aku ? Aku tak kenal dia. Sedangkan kawan-kawan yang mengenaliku langsung tidak mau menolongku..? tanya Cinta keheranan.

Sebab, hanya Waktulah yang tahu betapa berharganya Cinta itu….; kata orang itu. Kemudian pergi meninggalkannya. Setelah itu fahamlah Cinta akan kepentingannya di dunia ini.

(Anonymous)

NAFSU: TEMPAT DAN TENTARA-TENTARANYA


oleh Anggota WLML
Syekh Muhammad Nawawi Al-Jawi membagi nafsu dalam 7 tingkatan yang dikenal dengan istilah “marotibun- nafsi”. Tempat-tempat dimana nafsu ini bersemayam dalam dunia sufi biasa dinamakan sebagai “lathifah”, yaitu sebuah titik halus dalam diri kita yang keberadaannya tersebar.
Berikut penjelasan beliau tentang nafsu, tempat dan tentara-tentaranya:
(1) Nafsu Ammaaroh
Nafsu ammaroh tempatnya adalah “ash-shodru” artinya dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Bukhlu artinya kikir atau pelit
2. Al-Hirsh artinya tamak atau rakus
3. Al-Hasad artinya hasud
4. Al-Jahl artinya bodoh
5. Al-Kibr artinya sombong
6. Asy-Syahwat artinya keinginan duniawi
(2) Nafsu Lawwamah
Nafsu lawwamah tempatnya adalah “al-qolbu” artinya hati, tepatnya dua jari di bawah susu kiri. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Laum artinya mencela
2. Al-Hawa artinya bersenang-senang
3. Al-Makr artinya menipu
4. Al-’Ujb artinya bangga diri
5. Al-Ghibah artinya mengumpat
6. Ar-Riya’ artinya pamer amal
7. Az-Zhulm artinya zalim
8. Al-Kidzb artinya dusta
9. Al-ghoflah artinya lupa
(3) Nafsu Mulhimah
Nafsu mulhimah tempatnya adalah “Ar-ruh” tepatnya dua jari di bawah susu kanan. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. As-Sakhowah artinya murah hati
2. Al-Qona’ah artinya merasa cukup
3. Al-Hilm artinya murah hati
4. At-Tawadhu’ artinya rendah hati
5. At-Taubat artinya taubat atau kembali kepada Alloh
6. As-Shobr artinya sabar
7. At-Tahammul artinya bertanggung jawab
(4) Nafsu Muthmainnah
Nafsu muthmainnah tempatnya adalah “As-Sirr” artinya rahasia, tepatnya dua jari dari samping susu kiri kea rah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Juud artinya dermawan
2. At-Tawakkul artinya berserah diri
3. Al-Ibadah artinya ibadah
4. Asy-Syukr artinya syukur atau berterima kasih
5. Ar-Ridho artinya rido
6. Al-Khosyah artinya takut akan melanggar larangan
(5) Nafsu Rodhiyah
Nafsu rhodiyah tempatnya adalah “Sirr Assirr” artinya sangat rahasia, tepatnya di jantung yang berfungsi menggerakkan seluruh tubuh. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Al-Karom artinya
2. Az-Zuhd artinya zuhud atau meninggalkan keduniawian
3. Al-Ikhlas artinya ikhlas atau tanpa pamrih
4. Al-Waro’ artinya meninggalkan syubhat
5. Ar-Riyadhoh artinya latihan diri
6. Al-Wafa’ artinya tepat janji
(6) Nafsu Mardhiyah
Nafsu mardhiyah tempatnya adalah “Al-khofiy” artinya samar, tepatnya dua jari dari samping susu kanan ke tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Husnul Khuluq artinya baik akhlak
2. Tarku maa siwalloh artinya meninggalkan selain Alloh
3. Al-Luthfu bil kholqi artinya lembut kepada makhluk
4. Hamluhum ‘ala sholah artinya mengurus makhluk pada kebaikan
5. Shofhu ‘an dzunubihim artinya mema’afkan kesalahan makhluk
6. Al-Mail ilaihim liikhrojihim min dzulumati thoba’ihim wa anfusihim ila anwari arwahihim artinya mencintai makhluk dan cenderung perhatian kepada mereka guna mengeluarkannya dari kegelapan (keburukan) watak dan jiwa-jiwanya ke arah bercahayanya ruh-ruh mereka.
(7) Nafsu Kamilah
Nafsu kamilah tempatnya adalah “Al-Akhfa” artinya sangat samar, tepatnya di tengah-tengah dada. Adapun pasukan-pasukannya sebagai berikut :
1. Ilmul-yaqiin
2. Ainul-yaqiin
3. Haqqul-yaqiin
Dan tidak ada jalan yang terbaik untuk membersihkan segenap nafsu ini selain dzikr. Oleh karena itu, para ulama thoriqoh mengajarkan metode dzikir terutama dzikir nafi itsbat (laa ilaaha illalloh) yang tekniknya mengatur aliran dzikir ke seluruh lathifah-lathifah.
“ILAAAHIIII….ANTA MAQSHUUDII WA RIDHOOKA MATHLUUBII…A’THINII MAHABBATAKA WA MA’RIFATAK”

JALAN CINTA RABI`AH AL~ADAWIYAH


MAHABBAH| JALAN CINTA RABI`AH AL~ADAWIYAH

Tangga per JALAN CINTA RABI`AH AL~ADAWIYAHtama dalam maqam sufiadalah taubat, dan tangga terakhir adalah maqam ma’rifat yang akan mengantarkan pada rasa mahabbah (cinta). Mahabbah adalah rasa yang muncul setelah yaqîn dengan wujudnyakekasih (aL-Mahbub). Bagi pecinta (al-muhib) hatinya telah kosong dari selain kekasih karena telah dipenuhi dengan keindahan dan keagungan sang kekasih. Dalam maqam pecinta (al-muhib) seperti ini, nikmat dan bala’ tidak ada bedanya. Setiap nafas yang dikeluarkan adalah hembusan kalam hikmah, karena ia tidak melihat dan mendengar selain dari aL-Mahbub (Allah). Sedangkan orang yang telah mencapai derajat al-mahbub (kekasih Allah), setiap hembusan nafasnya adalah kepastian Allah, karena ia berjalan di atas makhluk dengan pertolongan Allah.
Derajat al-mahbub lebih tinggi dari al-muhib, sebab pecinta adalah salik yang terpikat (al-majdzub), sedangkan al-mahbub adalah orang terpikat (al-majdzûb) yang salik, al-muhib adalah murîd (pencari) sedang al-mahbûb adalah murod (yang dicari). Ibadah dilakukan untuk mu’awadloh (mencari keuntungan), sedangkan mahabbah untuk taqorrub (persandingan) dengan kekasih. Dari sinilah manusia bisa dikelompokkan menjadi empat. Yakni manusia yang mengharapkan pahala dunia akhirat, manusia yang mengharapkan pahala akhirat saja,manusia yang mengharapkan pemilik kedua pahala tersebut danmanusia yang sama sekali tidak memiliki harapan.
Rabî’ah aL-Adawiyyah (w. 165 H), sepenggal nama yang sangat legendaris dalam dunia tasawuf, telah dinobatkan sebagai wanita perintis jalan mahabbah ini. Ketika sufi wanita terkenal dari Bahsrah ini berziarah ke makam Rasûlullâh saw. pernah mengatakan; “Maafkan aku ya Rasul, bukan aku tidak mencintaimu, tapi hatiku telah tertutup untuk cinta yang lain, karena telah penuh cintaku pada Allah swt.”. Tentang cinta itu sendiri Rabî’ah mengajarkan bahwa cinta harus menutup dari segala hal kecuali yang dicintainya. Bukan berarti Rabî’ah tidak cinta kepada Rasul, tapi kata-kata yang bermakna simbolis ini mengandung arti bahwa cinta kepada Allah adalah bentuk integrasi dari semua bentuk cinta termasuk cinta kepada Rasul. Jadi mencintai Rasûlullâh saw. sudah dihitung dalam mencintai Allah swt. Seorang mukmin pecinta Allah pastilah mencintai segala yang di cintai-Nya pula. Rasulullah pernah berdoa: “Ya Allah karuniakan kepadaku kecintaan kepada-Mu, kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu dan kecintaan apa saja yang mendekatkan diriku pada kecintaan-Mu. Jadikanlah dzat-Mu lebih aku cintai dari pada air yang dingin.”
Untuk mencapai mahabbah ini, ada tangga-tangga (maqamat) yang harus dilewati, yakni taubat, zuhud, wara’, sabar, syukur dan ridlo. Pembagian tangga-tangga ini hanya sebatas teknis untuk memahamkan dan tidak bisa dipahami secara formal, dalam arti harus dijalani secara berurutan satu demi satu, melainkan boleh jadi semuanya dilakoni secara sekaligus. Dosa bagi penempuh jalan sufi adalah suatu yang sangat menyakitkan karena dapat memisahkan dengan Kekasih. Keyakinan bahwa dosa menjadi jurang pemisah dengan kekasih inilah yang akan membimbing seseorang tulus dalam taubat.
Setelah kerak dosa berhasil dihapus dengan taubat, maka dibutuhkan sebuah sikap penjagaan dari dosa, sikap yang harus dilakukan sebagai usaha ini adalah dengan gaya hidup zuhud dan wara’. Dalam perspektifsufi ada dua bentuk zuhud yang bisa dilakukan. Pertama zuhud dalam bentuk simbolis di mana seseorang menempatkan dunia di bawah kecintaan kepada Allah, artinya berharta namun tak sedikitpun terlintas dalam hati memilikinya. Kedua, zuhud total, yakni penolakan secara total segala sarana dan fasilitas duniawi. Jalan zuhud yang kedua inilah yang dipilih Rabî’ah sehingga membawanya pada sikap yang tidak bisa digoda oleh kemegahan dan kelezatan dunia.
Sikap zuhud atau menceraikan dunia dari hati harus diimbangi dengan sikap sabar dan syukur menghadapi setiap gelombang dan ombak kehidupan sehingga akan muncul sikap senantiasa ridlo dengan segala kehendak dan ketentuan Allah. Dalam konteks seperti ini, Rabî’ah pernah ditanya tentang ridlo, kapankah seorang hamba dikatakan ridlo? Dia menjawab; “apabila bagimu penderitaan sama menggembirakannya dengan anugrah”. Pernah ketika Rabî’ah sedang menderita sakit, Sufyan As-Saury memintanya berdoa agar lekas disembuhkan. Tetapi Rabî’ah malah mengatakan; “jika Allah bermaksud mengujiku, mengapa aku harus berpura-pura tidak tahu atas kehendak-Nya? Pernah juga suatu hari ketika Rabî’ah sedang shalat, batu bagian atas rumahnya jatuh mengenai kepalanya hingga berdarah. Ia tidak merasakan sedikitpun rasa sakit dan tetap melanjutkan shalat. Selesai shalat ia ditanya; Rabî’ah, apa engkau tidak merasakan sakit? Ia menjawab; “Tidak, sebab Allah telah menjadikan diriku ridlo menerima setiap kehendak-Nya. Setiap yang terjadi adalah atas kehendak-Nya”.

Di bawah kendali sikap sabar dan syukur inilah hamba akan senantiasa ridlo dengan setiap suratan Ilâhi yang telah digariskan. Mengeluh dan tidak menerima (ridlo) ketika ditimpa musibah adalah sikap berontak dan menggugat atas ketetapan-Nya. Sikap hamba seperti ini membuktikan masih mempersoalkan otoritas keagungan tuannya.
Keberhasilan melewati ritus-ritus di atas maka akan sampailah pada mahabbah yang merupakan puncak dari ajaran Rabî’ah. Ajaran cinta ini sebenarnya telah melampaui ajaran yang digagas oleh Hasan aL-Bashry yang bertumpu pada dorongan rasa takut (khauf) dan harapan (roja’). Bahkan Rabî’ah pernah melontarkan kritikan cerdas terhadap cara penyembahan Allah yang bertumpu pada khauf dan roja’. Dikisahkan, suatu hari sejumlah orang melihat Rabî’ah membawa sebatang obor dan seember air sambil berlari-lari. Mereka menegurnya, “wahai perempuan tua, hendak ke manakah engkau, dan apa arti semua ini? Rabî’ah menjawab; “aku akan menyulut api di surga dan menyiramkan air di neraka sehingga hijab di antara keduanya akan tersingkap sama sekali dari orang-orang yang berziarah dan tujuan mereka akan semakin yakin, lalu hamba-hamba Allah yang setia akan mampu menatap-Nya tanpa motifasi baik rasa takut atau harapan. Apa jadinya sekira harapan akan surga dan rasa takut akan neraka tidak ada sama sekali? Maka tidak ada seorang pun yang akan menyembah Allah”.

Menurut perspektif Rabî’ah, cinta membutuhkan totalitas, sehingga sikap yang harus dilakukan adalah bagaimana kekasih tidak merasa cemburu. Allah maha pencemburu. Jika tidak, kenapa Allah sangat murka dan tidak memaafkan ketika hamba menduakannya dengan sesembahan lain (musyrik)? Dikisahkan, suatu hari beberapa jamaah Rabî’ah mengunjunginya. Saat itu, Rabî’ah sedang terbaring sakit dengan tubuh lemah dan pucat. Mereka menyapa; “Rabî’ah, bagaimana keadaanmu?” Rabî’ah menjawab; “Aku juga tidak tahu apa penyebab penyakitku ini. Demi Allah diperlihatkan kepadaku surga, lalu aku terlintas untuk memilikinya. Mungkin Allah cemburu terhadap sikapku ini, lalu Dia mencelaku. Dia menghendaki agar aku kembali kepada-Nya dan menyadari kesalahanku”.
Inilah ajaran mahabbah yang dirilis Rabî’ah, sekedar membayangkan surga saja, ia sudah menganggap Kekasihnya cemburu. Sebuah kecemburuan suci. Jangankan kenikmatan duniawi, kenikmatan akhirat pun tidak ia harapkan, karena yang menjadi cita-citanya cuma satu; berjumpa dengan sang Kekasih (Allah). Hanya kepada hamba yang mencintai-Nya dengan cara seperti itu, Allah akan menyibakkan diri-Nya dengan segala keindahan (jamâl) dan keagungan-Nya (jal’âl) yang sempurna (kamâl). Rumusan cinta Rabî’ah dapat disimak dalam doa mistiknya:
“Oh Tuhan, jika aku menyembah-Mu karena takut api neraka, maka bakarlah aku di dalamnya dan besarkan tubuhku di neraka hingga tidak ada tempat lagi bagi hamba-hamba-Mu yang lain. Dan jika aku menyembah-Mu karena berharap surga, maka campakkanlah aku dari sana dan berikan surga itu untuk hamba-hamba-Mu yang lain; sebab bagiku engkau saja sudah cukup; Tapi jika aku menyembah-Mu karena Engkau semata, maka janganlah engkau sembunyikan keindahan-Mu yang abadi.”
Dalam kitab aL-Mahabbah, Imam aL-Ghazâly mengatakan bahwa cintakepada Allah adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan ia menduduki level tertinggi.
“(Allah) mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.” (QS. aL-Mâidah : 54)

DOA TOLAK SIHIR | SANTET | BALAK


DOA TOLAK SIHIR | SANTET | BALAK

Dunia yg penuh dg persaingan, terkadang membuat orang semakin berputus asa, gelap mata, tidak lagi memperdulikan Pesan2 Agama. Febnomena Sihir, santet, gendam dan sejenisnya semakin marak mewarnai kehidupan modern sekarang.

Hal yg sangat perlu di jaga adalah ketenangan jiwa, yg di peroleh melalui keimanan yg kokoh dan aqidah yg benar, karena darinya benteng kokoh itu berasal. Sabar, Tawakkal dan jangan lupa berdoa, atau membaca bacaan yg di samping mempunyai nilai Ibadah juga menyebabkan segala jenis aura negative menjauh.

Ingatlah bahwa doa2 yg kita baca tidak akan berpengaruh  terhadap unsur2 sihir, jika tidak di landasi dg keImanan yg kuat, sugesti bahwa Manusia tidak akan pernah di kalahkan oleh unsur2 sihir, bahwa pertolongan Allah lebih dekat kepada Hamba yg berbuat baik. Doa hanya merupakan Rangkaian Kalimat yg tak berarti, jika keluar dari mulut yg hati dan konsentrasinya di barengi oleh keinginan2 nafsu duniawi.

Berikut ini adalah bacaan2 Komplit yg sengaja saya suguhkan untuk yg berminat mengamalkannya, namun jika kesibukan Anda demikian penuh, sehingga tidak memungkinkan untuk membaca semuanya, atau karena lain hal, saya sarankan pilih yg no 25 untuk di baca pagi dan sore walaupun hanya satu kali saja, atau pilih salah satu mana yg lebih bias di istiqomahkan antara yg mulai no 17 sampai akhir.

Yg lebih baik dari semua itu, di samping Anda memilihdoa mana yg di suka, sowanlah pada kiyai yg ahli dalam hal ini untuk berkah izin mengamalkannya. Di samping kita akan di beri tahu secara detail arti dan kayfiyatnya.

BENTENG KOKOH MANUSIA DARI JIN DAN MANUSIA


Bacaan bacan di bawah ini terdiri dari ayat2 Al Quran danDoa2 dari Nabi Muhammad Shollallahu ‘Aliahi wa Sallam yg di ajarkan kepada para Sahabatnya Rodliyallahu ‘anhum ajma,in.

Untuk yg dari ayat2 Al Quran sengaja tidak saya terjemahkan, sebab tidak mengerti artinyapun Fadlilahnya tidak akan berkurang, jika membacanya dg tartil dan penuh dg semangat permohonan.

Lain halnya jika yg di baca itu merupakan kalimat2 Doa yg murni, maka sudah selayaknya jika kita juga harus tahu apa yg sedang kita minta itu. Walaupun membaca Doa2 dari Nabi itu sudah merupakan wujud dari rasa taat dan suka kita kepada apa yg telah di ajarkan oleh Beliau SAW.

Dan yg perlu di ingat lagi, bahwa bacaa2 di bawah ini secra teori, sekali lagi secara teri hanya merupakan antisipasi saja, bukan merupakan pengusir/penawar/penghilangsihir, tenung, teluh, santet, gendam dll. Karena dalam hal pengusir atau penyembuh ada metode tersendiri, namun demikian, besar kemungkinan doa2 ini akan berfungsi sebagai penawar jika si pembacanya bersungguh2 dan istiqomah.

Bagi yg sudah terjangkit baik yg stadium ringan maupun yg sudah akut, aka ada reaksi seperti kepala pening, mual, muntah, lemas dll. Semakin parah si pembaca terjangkit, maka semakin kuat pula reaksinya. Teruskan bacanya, jangan takut dan jangan malas, tentu saja bagi yg sudah parah, aka nada bisikan2 was was untuk tidak meneruskanbacaannya, bisikan ini harus di lawan dg di sertai memohon kepada Allah dg keyakinan yg penuh.

Bacaan2 tersebut di bawah ini berfungsi secara wajar jika di baca dg ketenangan, ketekunan, keyakinan akan pertolongan Allah, Bacaan2 ini akan mengguncang jasadjin yg telah mengeram lama di tubuh Manusia.

Sebaiknya di baca semuanya, di buat semacam wiridan Pagi dan Sore.


16                                   الفاتحة :

(بسم الله الرحمن الرحيم . الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم مالك يوم الدين . إياك نعبد وإياك نستعين اهدنا الصراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين)) 

(2)           أربع آيات من أول البقرة :

(ألم ذلك الكتاب لاريب فيه هدى للمتقين الذين يؤمنون بالغيب ويقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون والذين يؤمنون بما أنزل إليك وما أنزل من قبلك وبالآخرة هم يوقنون)    

(3)           والآيات :

(وإلهكم إله واحد لإإله إلا هو الرحمن الرحيم إن في خلق السماوات والأرض واختلاف الليل والنهار والفلك التي تجري في البحر بما ينفع الناس وما أنزل الله من السماء من ماء فأحيا به الأرض بعد موتها وبث فيها من كل دابة وتصريف الرياح والسحاب المسخر بين السماء والأرض لآيات لقوم يعقلون) (724)

(4)           آية الكرسي وآيتان بعدها:

( الله لا إله إلا هو الحي القيوم لا تأخذه سنة ولا نوم له ما في السماوات وما في الأرض من ذا الذي يشفع عنده إلا بإذنه يعلم ما بين أيديهم وما خلفهم ولا يحيطون بشيء من علمه إلا بما شاء وسع كرسيه السماوات والأرض ولا يؤوده حفظهما وهو العلي العظيم لا إكراه في الدين قد تبين الرشد من الغي فمن يكفر بالطاغوت ويؤمن بالله فقد استمسك بالعروة الوثقي لا انفصام لها والله سميع عليم الله ولي الذين أمنوا يخرجهم من الظلمات إلي النور والذين كفروا أولياؤهم الطاغوت يخرجونهم من النور إلي الظلمات أولئك أصحاب النار هم فيها خالدون)

(5)           خواتيم البقرة :

(لله ما في السماوات وما في الأرض وإن تبدوا مافي أنفسكم أو تخفوه يحاسبكم به الله فيغفر لمن يشاء ويعذب من يشاء والله على كل شيء قدير آمن الرسول بما أنزل إليه من ربه والمؤمنون كل أمن بالله وملائكته وكتبه ورسله لا نفرق بين أحد من رسله وقالوا سمعنا وأطعنا غفرانك ربنا وإليك المصير لا يكلف الله نفسا إلا وسعها لها ما كسبت وعليها ما اكتسبت ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا ربنا ولاتحمل علينا إصرا كما حملته على الذين من قبلنا ربنا ولا تحملنا مالا طاقة لنا به واعف عنا واغفر لنا وارحمنا أنت مولانا فانصرنا علي القوم الكافرين )   

(6)           سورتا البقرة وآل عمران :

وفي فضلهما :

       عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول صلي الله علية وسلم يقول:” لا تجعلوا بيوتكم قبورا فأن البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة لا يدخله شيطان”  

وعن أبي أمامه رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلي الله علية وسلم يقول:” اقرءوا القرآن فأنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه اقرءوا الزهراوين : البقرة وسورة آل عمران فأنهما يأتيان يوم القيامة كأنهما غمامتان- أو كأنهما غيابتان – أو كأنهما فرقان من طير صواف بحاجات عن أصحابهما اقرءوا سورة البقرة فأن أخذها بركة وتركها حسرة ولا تستطيعها البطلة”

قال معاوية بن سلام: بلغني أن البطلة”: السحرة

(7)            ومن سورة آل عمران :

( شهد الله انه لاإله إلا هو والملائكة وأولوا العلم قائما بالقسط لا إله إلا هو العزيز الحكيم إن الدين عند الله الإسلام)

(8)            ومن سورة الأعراف  :

(إن ربكم الله الذى خلق السماوات والأرض في ستة أيام ثم استوى علي العرش يغشي الليل النهار يطلبه حثيثا والشمس والقمر والنجوم مسخرات بأمره ألا له الخلق والأمر تبارك الله رب العالمين .أدعو ربكم تضرعا وخفية إنه لا يحب المعتدين ولا تفسدوا في الأرض بعد إصلاحها وادعوه خوفا وطمعا إن رحمة الله قريب من المحسنين)

(9)            آخر سورة المؤمنون :

( أفحسبتم أنما خلقناكم عبثا وأنكم إلينا لا ترجعون فتعالي الله الملك الحق لا إله إلآ هو رب العرش الكريم ومن يدع مع الله إلها آخر لا برهان له به فإنما حسابه عند ربه إنه لا يفلح الكافرون وقل رب اغفر وارحم وأنت خير الراحمين)

(10)      العشر آيات الآولي من سورة الصافات

( والصافات صفا فالزاجرات زجرا فالتاليات ذكرا إن إلهكم لواحد رب السماوات والأرض وما بينهما ورب المشارق إنا زينا السماء الدنيا بزينة الكواكب وحفظا من كل شيطان مارد لا يسمعون إلى الملأ الأعلي ويقذفون من كل جانب دحورا ولهم عذاب واصب إلا من خطف الخطفة فأتبعه شهاب ثاقب)

(11)      أول سورة غافر:

(حم تنزيل الكتاب من الله العزيز العليم غافر الذنب وقابل التوب شديد العقاب ذي الطول لا إله إلا هو إليه المصير )

(12)     من سورة الرحمن :

( يا معشر الجن والأنس إن استطعتم أن تنفذوا من أقطار السماوات والأرض فانفذوا لا تنفذون إلا بسلطان فبأي آلاء ربكما تكذبان يرسل عليكما شواظ من نار ونحاس فلا تنتصران)

(13)      آخر سورة الحشر :

( لو أنزلنا هذا القرآن علي جبل لرأيته خاشعا متصدعا من خشية الله وتلك الأمثال نضربها للناس لعلهم يتفكرون هو الله الذي لا إله إلا هو عالم الغيب والشهادة هو الرحمن الرحيم هو الله الذي لا إله إلا هو الملك القدوس السلام المؤمن المهمين العزيز الجبار المتكبر سبحان الله عما يشركون هو الله الخالق الباري المصور له الأسماء الحسني يسبح له مافي السماوات والأرض وهو العزيز الحكيم )

(14)      ثلاث من أول سورة الجن :

(قل أوحي إلى أنه استمع نفر من الجن فقالوا أنا سمعنا قرآنا عجبا يهدى إلي الرشد فأمنا به ولن نشرك بربنا أحدا وانه تعالي جد ربنا ما اتخذ صاحبة ولا ولدا)

(15)      الإخلاص والمعوذتان  :

( قل هو الله أحد الله الصمد لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد ) ( ثلاث مرات)

(قل أعوذ برب الفلق من شر ما خلق ومن شر غاسق إذا وقب ومن شر النفاثات في العقد ومن شر حاسد إذا حسد) (ثلاث مرات)

(قل أعوذ برب الناس ملك الناس إله الناس من شر الوسواس الخناس الذي يوسوس في صدور الناس من الجنة والناس) (قرأ ثلاث مرات)

16       أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم

  (A’udzu billahis sami,il ‘Alimi minas syaithonir Rojim)

“Aku berlindung dg Allah yg maha Mendengar dan Maha Tahu dari Syaitan yg di Rajam”

17                                   أعوذ بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم من همزه ونفخه ونفثه

 

(A’udzu billahis Sami,il ‘Alimi minas Syaithonir Rojimi min Hamzihi wa Nafkhihi wa Naftsihi)

 

“Aku berlindung dg Allah Yg Maha Mnedengar dan Tahu dari setan, dari Umpatannya, Tiupannya dan Hembusannya”

18                                   بسم الله توكلت علي الله لاحول ولاقوة إلإ بالله

(Bismillahi Tawakkaltu ‘Alallah wa la Khaula wa la Quwwata illa Billah)

 

“Besrta Allah aku pasrah kepadaNya, tiada daya dan upaya kecuali bersamaNya”

 

19                                   أعوذ بكلمات الله التامة من كل شيطان وهامة ومن كل عين لامة (ثلاث مرات)

 

(A’dzu bi Kalimatillahit Taamati min kulli Syaithonin wa Haamatin wa min kulli ‘ainin Laamatin)

 

“Aku berlindung menggunakan kalimat2 Allah yg sempurna dari Setan dan bias (racun) dan dari Hipnotis yg yg menyakiti” 3X

20                                   أعوذ بكلمات الله التامات من شر ما خلق

 

(A’dzu bi Kalimatillahit Taammaati min Syarri ma Kholaqo)

 

“Aku berlindung dg menggunakan Kalimat2 Allah yg sangat sempurna dari keburukan MahluqNya”

 

21                                   أعوذ بكلمات الله التامات التي لا يجاوزهن بر ولا فاجر من شر ما خلق وذرأ ومن شر ما ينزل من السماء ومن شر ما يعرج فيها ومن شر ما ذرأ في الأرض ومن شر ما يخرج منها ومن شرفتن الليل والنهار ومن شر طوارق الليل والنهار الاطارق يطرق بخير يارحمن

 

(A’udzubi Kalimatillahit Taammaati l Lati Yujawizuhunna Barru wa la Fajirun min Syarri ma Kholaqo wa Dzaro-a wa min Syarri ma yanzilu minas Sama-i wa min Syarri ma Ya’ruju fiha wa min Syarri ma Dzaro-a fil Ardli wa min Syarri ma Yakhruju minha wa min syarri fitanil Laili wan Nahari wa Min Syarri Thowariqil Laili wan Nahari Illa Thoriqon yathruqu bi Khoirin Ya Rahman)

 

“Aku memunta perlindungan dg menggunakan Kalimat2 Allah yg Sempurna yg tidak akan terlampaui oleh orang yg baik maupun Orang yg Orang yg Kuarang Ajar dari apa yg di ciptakan Allah dan yg berkembang biak, dan darikeburukan apa yg turun dari Langit dan yg naik kepadanya, dan dari yg berkembang biak di Bumi, dan yg keluar darinya, dan dari semua fitnah siang dan malam, dan dari yg merambah Malam dan Siang, kecuali Perambah dg Merambah yg baik.

22                                   أعوذ بكلمات الله التامات من غضبة وعقابه ومن شر عباده ومن همزات الشياطين وأعوذ بك رب أن يضرون

 

(A’udzu bi Kalimatillahit Taammaati min Ghodlobihi wa ,Iqobihi wa min Syarii ,Ibadihi wa min Hamazaatis Syayathini wa A’udzu bika Robby an Yakhdlurun)

 

“Aku berlindung dg Kalimat2 Allah yg semourna dari MurkaNya dan SiksaNya, dan dari keburukan HambaNya, dan dari tiupan Setan, dan aku berlindung wahai Tuhanku agar mereka tidak dating”

 

23                                   اللهم أني أعوذ بوجهك الكريم وكلماتك التامات من شر ما أنت آخذ بناصيته اللهم أنت تكشف ألما ثم والمغرم اللهم إنه لا يهزم جندك ولا يخلف وعدك سبحانك وبحمدك

 

(Allahumma Inny A’dzu bi Wajhikal Karimi wa Kalimaatikat Taammaati min syarri maa Anta A-Khidzun bi Nashiyatihi Allahumma Anta Taksyiful Ma-atsimi wal Maghromo Allahumma la Yahzumu Junduka wa la Yakhlifu wa’duka Subhanaka wa Bihamdika)

“Wahai Allah sungguh aku berlindung demi DzatMu yg Agung dan dg Kalimat2Mu yg sempurna dari keburukan apa saja yg Engkaulah menguasainya Wahai Allah Engkau Maha Membuka Dosa2(Artinya member jalan keluar dg ampunan) dan Orang yg tertindas, Wahai Allah tidaklah tentaraMu itu terkalahkan dan JanjiMu tidak akan selisih”

24                                   أعوذ بوجه الله العظيم الذي لاشيء أعظم منه وبكلمات الله التامات التي لا يجاوزهن بر ولافاجر وبأسماء الله الحسني كلها ما علمت منها ومالم اعلم من شر ما خلق وذرأ وبرأ ومن شر كل ذي شر لا أطبق شره ومن شر كل ذي شر أنت خذ بناصيته إن ربي علي صراط مستقيم

 

(A’dzu biWajhillahil ‘Adhiimi Alladzi la Syai-a A’dhomu minhu wa bi Kalimatillahit Taammaatil Lati la yujawizuhunna barru wa la faajirun wa bi asmaillahil Khusna Kulliha ma ‘Alimtu minhu wa ma lam A’lamu min Syarri ma Kholaqo wa Dzaro-a wa Bari-a wa min Syarri kulli dzi Syarrin la Uthiqu Syarruhu wa min Syarri kulli dzi Syarrin Anta Akhidzun bi Nashiyatihi Inna Robbi ‘ala Shirotin Mustaqim)

 

“Aku berlindung dg Dzat Allah yg Agung yg tiada sesuatupun lebih Agung dariNya, dan dg Kalimat2 Allah yg Sempourna yg orang2 baik dan buruk tidak akan dapat melampauinya, dan dg Semua Nama2 Allah Yg Bagus baik yg aku mengerti dan tidak Aku Mengerti dari keburukanMahluq yg berkembang biak dan bebas berkeliaran dan dari kejahatan tiap2 yg mempunyai kejahatan yg Engkaulah penguasanya, sesungguhnya Tuhanku dalam jalan yg Lurus”

25                                   اللهم أنت ربي لا إله أنت عليك توكلت وأنت رب العرش العظيم ما شاء الله كان ومالم يشأ لم يكن ولاحول ولاقوة إلا بالله أعلم أن الله علي كل شئ قدير وان الله قد أحاط بكل شئ علما أحصي كل شئ عددا اللهم أني أعوذ بك من شر نفسي وشر شيطان وشركه ومن شر كل دابة أنت آخذ بناصيتها إن ربي علي صراط مستقيم

 

(Allahumma anta Robby Laa Ilaha Illa Anta ‘Alaika tawakkaltu wa Ant Robbul ‘Arsyil ‘Adhimi Masya Allahu kana wa ma lam yasya-, lam yakun wa la khaula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘Adhim A’lamu annallaha ‘ala kulli syai-in Qodir wa Annallaha Qod Akhatho bikulli syai-in <ilman wa Akhsho kullu Syai-in ‘adadan Allahumma inny A’dzu bika min Syarri Nafsi wamin syarri kulli daabbatin anta a-Khidzun binashiyatiha Inna Robbi ‘ala Shirotin Mustaqim)

 

“Wahai Allah Engkaulah Tuhanku Tiada Tuhan selain Engkau kepadaMu aku Pasrahkan dan Engkaulah Pemilik ‘Arasy yg agung, apa yg Engkau kehendaki maka wujudlah, dan yg tidak Engau kehendaki tidak akan Wujud, dan tiada daya dan upaya melainkan dg titahMu, Aku mengerti bahwa sesungguhnya Ilmu Allah maha meliputi atas sesuatu, Wahai Tuhanku Aku berlindung dgMu dari kejahatan diriku sendiri dan dari semua yg melata yg Engkaulah PenguasaNya, Sesungguhnya Robbku di jalan yg lurus”